Kenapa Standar BMI di Indonesia Beda Sama Kalkulator Luar Negeri?
Pernah ga kamu iseng ngecek kalkulator BMI di situs luar negeri (misal bikinan AS atau Eropa), hasilnya dibilang "Normal", tapi pas ke dokter atau puskesmas dibilang sudah masuk "Kelebihan Berat Badan"?
Bukan alatnya yang rusak, tapi standar rujukan tubuh orang Asia memang berbeda. Berdasarkan riset ilmiah WHO, orang Asia (termasuk kita di Indonesia) punya persentase lemak tubuh dan lemak perut (visceral fat) yang lebih tinggi pada angka timbangan yang sama dibandingkan orang berpostur Kaukasia.
Itu sebabnya, Kementerian Kesehatan RI mengadopsi Klasifikasi Asia-Pasifik dengan batas angka yang sedikit lebih ketat:
| Status Berat Badan | Skor BMI (Kemenkes / Asia) | Penjelasan Praktis |
|---|---|---|
| Berat Kurang (Underweight) | < 18.5 | Rentan anemia, daya tahan tubuh turun, perlu tambah asupan protein |
| Normal / Sehat ✓ | 18.5 – 22.9 | Rentang paling ideal untuk menekan risiko penyakit gula dan darah tinggi |
| Kelebihan Berat (Overweight) | 23.0 – 24.9 | Lampu kuning: kurangi minuman manis kemasan & gorengan berlebih |
| Obesitas Tingkat I | 25.0 – 29.9 | Mulai muncul risiko resistensi insulin dan penumpukan lemak hati |
| Obesitas Tingkat II | ≥ 30.0 | Sangat dianjurkan konsultasi dengan dokter gizi klinis |